Kenapa harus kau.....
Kau yang slama ini aku kasihi,
Kau yang slama iki aku sayangi,
Kau yang slama ini kulindungi.
Kenapa mesti kau....
Kau yang jadi bagian hidupku,
Kau yang slalu membantuku,
Kau yang indahkan tawaku,
Kau yang pesonakan senyumku.
Kenapa akhirnya kau....
Yang memberi sakit tak terperih.
Yang memberi Sakit dari rambutku sampai ujung kaki.
Yang memberi Sakit serasa mengoyak badanku.
Iam sorry,
Goodbye......!!!!
Senin, 19 Oktober 2009
"...KAU...", YG MENYAKITIKU.
Hari ini tgl 19 okt 2009 pk.18.30. Aku datang menemui Dewa penolongku.Dewa yang selama ini sudah menyelamatkan hubungan kita tetap utuh,Dewa yang sudah membuatmu tetap di sisiku.
Ya... Kau, beberapa tahun terakhir telah bnyak berubah.
Kau yang akhir2 ini sering membuat sakit aku krna ulahmu.
Kau yang aku kasihi yang aku cintai, akhir2 ini sudah bikin aku ingin membuangmu.
Memang aku juga sadar, perubahan yang terjadi pada dirimu beberapa tahun terakhir tak lain juga karna ulahku,karna sikapku yang kurang menjagamu,memperhatikanmu dan merawatmu dengan baik.
Semua terjadi di mulai dgan adannya lubang2 kecil dalam hubngan kita dan aku tak tahu ataukah karna sikap cuekku yang takmau tahu akan semua masalah yang terjadi pada dirimu.
Akhirnya mungkin krna kau sudah tak kuat menahan semuanya kau mulai berontak Itu pertama kali di tahun pertama dalam hidupku kumerasakan sakit yang tak terperih,sakit yang kurasa menelusuri seluruh tubuh dari ujung rambut sampai kaki,menghujan hebat serasa mengoyak tubuhku.
Dewa penolöng berhasil menjinakkan tingkah liarmu.
Memang pertama kali aku datang menemui sangDewa, Dewalah yang menganjurkan ku untuk berpisah denganmu. Dewa juga menyalakanku karna terlambat menemui sang Dewa sehingga keadaamu semakin parah, lubang yang menjdi masalah di antara kita smakin menganga.
Tapi karna rasa cinta kasihku padamu. ku mohon pd Dewa untk menolong hubungan kita.Mohon untk mempertahankan mu tetap di sisiku menemani hari2 indahku,memperindah senyuman hangat ku.
Dewa mengalah dan merawatmu, membimbingmu ke jalan yang benar.Dewa berhasil menutup lubang-lubang masalah kita.
Tapi semua itu hanya sementara.
Tahun demi tahun selalu terulang cerita itu.
Entah sudah berapa kali cerita-cerita itu berulang.
Kau sakiti aku dengan ulahmu,sakit yang teramat sangat,sakit yang serasa mengoyak tubuhku. Cerita tentang ketegaranku untk tetap mempertahankanmu karna cinta dan kasihku padamu walau masih bnyak kamu2 lain di sisiku.Cerita tentang sang Dewa yang berhasil menjinakanmu dari tingkah liarmu yang membuat sakit aku.
Setelah kau ulangi lagi menyakiti diriku tuk kesekian kalinya. Aku mulai berpikir tuk bercerai darimu.Memang betul kata Dewa dan kata orang2 di sekitarku. "Sakitmu" sudah terlalu parah dan tak mungkin lagi di rawat. Walau dengan berat harus kuambil langkah ini demi diriku sendiri.
EGOiS...Mungkin...
Memang semua yang terjadi pd dirimu dan lubang-lubang pada hubungan kita adalah kesalahanku dan bukan salahmu, tapi rasa sakit akhibat ulahmu beberapa tahun terakhir aku sudah tak sanggup lg menahannya.
Biarlah ini menjadi jambuk bagi aku untk menjaga dan lebih perhatian pada sahabat2 kamu yg masih d sisiku agar "sakitmu" tdak terjadi lagi pada mereka dan membuat perih pada diriku.
Sang Dewa sudah menemuiku,menanyakan masalah yang terjadi antara kita.
Aku pun menjelaskan pada Dewa bahwa lubang-lubang itu smakin menganga lebar...Ulahmu smakin lama semakin membuatku memantapkan niat tuk menceraikanmu.
Dewapun tanpa bnyak tanya lagi dan mulai menyiapkan acara perpisahan ini. Ya hari ini aku adalah orang ke dua , setelah orng pertama telah sukses d tanggani sang Dewa.
Detik-detik akhir yang menegangkan,aku masih terus menimbang-nimbang lagi tuk berpisah dengan mu, walau keputusan itu sudah tak mungkin di ubah lagi karna sangDewa telah selesai dengan persiapanya, yang artinya dirimu tak akan lolos dari eksekusi ini.
Ya ... Memang begitulah hukumnya... Bila kita bercerai, berarti kamu akan d EKSEKUSI sangDewa.
Dewa mulai menyuntikkan obat penahan rasa sakit pd ku karna efeck dari perceraian dan "eksekusi" ini akan menimbulkan sakit yg teramat sangat dan tak seorangpun sanggup menahannya tanpa obat penahan rasa sakit...
Dewa pun menanyakan kesiapanku....
Siappp... Dok...
Dan.........
Berhasill........
Kata DOKTER GIGI yang ku sebut SANG DEWA PENOLONG sambil menunjukan dirimu GIGI malangku...
Ya... Kau, beberapa tahun terakhir telah bnyak berubah.
Kau yang akhir2 ini sering membuat sakit aku krna ulahmu.
Kau yang aku kasihi yang aku cintai, akhir2 ini sudah bikin aku ingin membuangmu.
Memang aku juga sadar, perubahan yang terjadi pada dirimu beberapa tahun terakhir tak lain juga karna ulahku,karna sikapku yang kurang menjagamu,memperhatikanmu dan merawatmu dengan baik.
Semua terjadi di mulai dgan adannya lubang2 kecil dalam hubngan kita dan aku tak tahu ataukah karna sikap cuekku yang takmau tahu akan semua masalah yang terjadi pada dirimu.
Akhirnya mungkin krna kau sudah tak kuat menahan semuanya kau mulai berontak Itu pertama kali di tahun pertama dalam hidupku kumerasakan sakit yang tak terperih,sakit yang kurasa menelusuri seluruh tubuh dari ujung rambut sampai kaki,menghujan hebat serasa mengoyak tubuhku.
Dewa penolöng berhasil menjinakkan tingkah liarmu.
Memang pertama kali aku datang menemui sangDewa, Dewalah yang menganjurkan ku untuk berpisah denganmu. Dewa juga menyalakanku karna terlambat menemui sang Dewa sehingga keadaamu semakin parah, lubang yang menjdi masalah di antara kita smakin menganga.
Tapi karna rasa cinta kasihku padamu. ku mohon pd Dewa untk menolong hubungan kita.Mohon untk mempertahankan mu tetap di sisiku menemani hari2 indahku,memperindah senyuman hangat ku.
Dewa mengalah dan merawatmu, membimbingmu ke jalan yang benar.Dewa berhasil menutup lubang-lubang masalah kita.
Tapi semua itu hanya sementara.
Tahun demi tahun selalu terulang cerita itu.
Entah sudah berapa kali cerita-cerita itu berulang.
Kau sakiti aku dengan ulahmu,sakit yang teramat sangat,sakit yang serasa mengoyak tubuhku. Cerita tentang ketegaranku untk tetap mempertahankanmu karna cinta dan kasihku padamu walau masih bnyak kamu2 lain di sisiku.Cerita tentang sang Dewa yang berhasil menjinakanmu dari tingkah liarmu yang membuat sakit aku.
Setelah kau ulangi lagi menyakiti diriku tuk kesekian kalinya. Aku mulai berpikir tuk bercerai darimu.Memang betul kata Dewa dan kata orang2 di sekitarku. "Sakitmu" sudah terlalu parah dan tak mungkin lagi di rawat. Walau dengan berat harus kuambil langkah ini demi diriku sendiri.
EGOiS...Mungkin...
Memang semua yang terjadi pd dirimu dan lubang-lubang pada hubungan kita adalah kesalahanku dan bukan salahmu, tapi rasa sakit akhibat ulahmu beberapa tahun terakhir aku sudah tak sanggup lg menahannya.
Biarlah ini menjadi jambuk bagi aku untk menjaga dan lebih perhatian pada sahabat2 kamu yg masih d sisiku agar "sakitmu" tdak terjadi lagi pada mereka dan membuat perih pada diriku.
Sang Dewa sudah menemuiku,menanyakan masalah yang terjadi antara kita.
Aku pun menjelaskan pada Dewa bahwa lubang-lubang itu smakin menganga lebar...Ulahmu smakin lama semakin membuatku memantapkan niat tuk menceraikanmu.
Dewapun tanpa bnyak tanya lagi dan mulai menyiapkan acara perpisahan ini. Ya hari ini aku adalah orang ke dua , setelah orng pertama telah sukses d tanggani sang Dewa.
Detik-detik akhir yang menegangkan,aku masih terus menimbang-nimbang lagi tuk berpisah dengan mu, walau keputusan itu sudah tak mungkin di ubah lagi karna sangDewa telah selesai dengan persiapanya, yang artinya dirimu tak akan lolos dari eksekusi ini.
Ya ... Memang begitulah hukumnya... Bila kita bercerai, berarti kamu akan d EKSEKUSI sangDewa.
Dewa mulai menyuntikkan obat penahan rasa sakit pd ku karna efeck dari perceraian dan "eksekusi" ini akan menimbulkan sakit yg teramat sangat dan tak seorangpun sanggup menahannya tanpa obat penahan rasa sakit...
Dewa pun menanyakan kesiapanku....
Siappp... Dok...
Dan.........
Berhasill........
Kata DOKTER GIGI yang ku sebut SANG DEWA PENOLONG sambil menunjukan dirimu GIGI malangku...
Sabtu, 05 September 2009
AMPUNI DOSA KAMI
"Pagi",Kusapa orang pertama yang ku temui pagi ini.Sambil tetap berjalan di sepanjang gang komplek perkampunganku yang menghubungkan rumahku dengan jalan raya.Memang hari masih belum terlalu terang,embun pagi juga masìh oga-ogahan bergelayut di atas daun dan rumput di pingiran gang yang kulalui.Warga kampung juga masih belum banyak yang beraktifitas pagi ini atau mereka masih ngantuk habis bangun di pagi buta untuk makan sahur, malah mungkin masih banyak yang asik bermalas-malasan di tempat tidur sambil mengingat-ingat mimpi yang mereka alami tadi malam di temani guling yang ogah lepas dari tpelukan. Dengan agak sedikit mempercepat langkah karena takut ketinggalan angkutan umum,ku tapaki inci demi inci balok-balok paving yang tertata rapi dari ujung ke ujung gang yang kulalui.Walau Kadang ujung sepatu fantople yang sudah agak lusuh karna jarang di semir tersandung batu kerikil tapi tak ku hiraukan. Baju batik lengan pendek dan celana jin hitam, membalut tubuhku yang tidak terlalu gemuk dan agak semampai,tanpa di hiasi aksesoris yang mencolok hanya ada jam tangan yang melingkar di lengan kiri ku yang sedari tadi bolak-balik kulihat. Bunyi roda-roda travel bag yang ku tarik di tangan kanan ku,makin berisik terdengar beradu dengan kerasnya balok-balok paving. Sambil sesekali ku rapikan jaket yang tergantung di pundak kiriku.
Telpon kakak ku tadi malam yang menggiring langkahku pagi ini menuju ke terminal bunggurasi, satu-satunya terminal bus antar kota terbesar di Surabaya yang sekaligus terbesar di jawa timur.Tujuanku kali ini adalah Tasikmalaya,ya emang jauh perjalanan yang akan ku tempuh kali ini.Tasikmalaya adalah sebuah kota di jawa barat kakakku dan keluarganya sudah hampir lima tahun menetap di sana karena perusahaan tempat kakak bekerja, menugaskan dia untuk menggelola cabang yang ada di sana.Telpon kakakku tadi malam memang mengagetkan aku dan keluarga yang ada di Surabaya.Nada bicara kakak yang tinggi serta ketakutan dan kecemasan yang sangat tercermin dari setiap untaian kata-kata yang mengalir terbata-bata dan sedikit bergetar dari bibirnya.
"Gempa-gempa", "kami sekarang di landa gempa,banyak rumah-rumah roboh, tapi alhamdulilla kami sekeluarga selamat meskipun rumah kami tidak".
Itu sepengal kata-kata kakakku di telpon tadi malam yang masih teringat jelas dan terus terngiang-ngiang di telingaku.
Ya...Gempa...
Kata itu pula yang bikin buka puasaku dan seluruh keluargaku jadi tak berselerah.Kakakku telpon pas waktu kami mau menyantap hidangan buka puasa..
Ibu adalah orang yang paling histeris mendengar kabar itu.*"Piye pakne nasipe Yudi sak keluargane pakne,walahh.... Yok opo rek-rek", *(Bagaimana pak nasib Yudi dan keluarganya.Walahh bagai mana ya) ya Yudi adalah nama kakak pertamaku yang di Tasik dan aku Doni anak ke dua serta tiga adikku yang masih tinggal dengan orang tua kami di Surabaya. Akhirnya aku yang di suruh ayah berangkat duluan sambil membawa barang-barang yang mungkin di butuhkan seperti selimut dan sedikit baju ganti.
Tinggal beberapa langkah lagi aku sudah sampai di ujung gang. Sudah kulihat ada satu angkot yang menungguku,"bungur-bungur, ayo cak langsung berangkat", teriak kenek angkot mengajak ku turut serta.Sambil berlari kecil aku menuju angkot warna kuning yang siap mengantarku,dengan cekatan kenek angkot menyambar travel bag yang ku bawa untuk di masukan bagasi."bungur" kataku menyebut pemberhentian terakhirku sambil mencari tempat duduk."Tarik pir" teriak kenek memberi aba-aba pada sopir untuk segera berangkat. Aku dapat tempat duduk di bangku deret kanan sebelah belakang.Tanpa ku hiraukan penumpang lain langsung ku sandarkan kepalaku sambil ku dekap jaket yang sedari tadi tersampir di pundakku. Lamunanku langsung melayang, terbayang korban-korban gempa termasuk kakaku dan keluarganya yang sedang mengalami masa-masa sulit pasca bencana bisa kurasakan penderitaan mereka. Terbayang lagi gempa Bantul yang para korbanya banyak yang terlantar karena bantuan terkesan lambat. Entah karena birokrasi yang berbelit atau memang oknum yang memanfaatkan penderitaan rakyat untuk menumpuk kekayaan pribadi lewat bantuan untuk korban bencana. Semoga pemerinta dan pihak-pihak terkait penanganan gempa di Jawabarat, bisa bercermin pada pengalaman seperti di Bantul bahkan tsunami di Aceh. " Ya Alloh ya Robbi,jika bencana yang Kau timpahkan kepada Bangsa kami adalah ujian, ringankanlah ya Allah"," Jika bencana ini hukuman ampunila segala dosa-dosa kami ya Allah".
*Di DEDIKASIKAN tuk: Korban gempa di Jawabarat,Semoga para korban yang selamat di kuatkan untuk menghadapi cobaan ini. Ingat kalian masih punya kami seluruh rakyat Indonesia. Bagi korban meninggal semoga arwahnya di terima di sisi-Nya...Amin...
Telpon kakak ku tadi malam yang menggiring langkahku pagi ini menuju ke terminal bunggurasi, satu-satunya terminal bus antar kota terbesar di Surabaya yang sekaligus terbesar di jawa timur.Tujuanku kali ini adalah Tasikmalaya,ya emang jauh perjalanan yang akan ku tempuh kali ini.Tasikmalaya adalah sebuah kota di jawa barat kakakku dan keluarganya sudah hampir lima tahun menetap di sana karena perusahaan tempat kakak bekerja, menugaskan dia untuk menggelola cabang yang ada di sana.Telpon kakakku tadi malam memang mengagetkan aku dan keluarga yang ada di Surabaya.Nada bicara kakak yang tinggi serta ketakutan dan kecemasan yang sangat tercermin dari setiap untaian kata-kata yang mengalir terbata-bata dan sedikit bergetar dari bibirnya.
"Gempa-gempa", "kami sekarang di landa gempa,banyak rumah-rumah roboh, tapi alhamdulilla kami sekeluarga selamat meskipun rumah kami tidak".
Itu sepengal kata-kata kakakku di telpon tadi malam yang masih teringat jelas dan terus terngiang-ngiang di telingaku.
Ya...Gempa...
Kata itu pula yang bikin buka puasaku dan seluruh keluargaku jadi tak berselerah.Kakakku telpon pas waktu kami mau menyantap hidangan buka puasa..
Ibu adalah orang yang paling histeris mendengar kabar itu.*"Piye pakne nasipe Yudi sak keluargane pakne,walahh.... Yok opo rek-rek", *(Bagaimana pak nasib Yudi dan keluarganya.Walahh bagai mana ya) ya Yudi adalah nama kakak pertamaku yang di Tasik dan aku Doni anak ke dua serta tiga adikku yang masih tinggal dengan orang tua kami di Surabaya. Akhirnya aku yang di suruh ayah berangkat duluan sambil membawa barang-barang yang mungkin di butuhkan seperti selimut dan sedikit baju ganti.
Tinggal beberapa langkah lagi aku sudah sampai di ujung gang. Sudah kulihat ada satu angkot yang menungguku,"bungur-bungur, ayo cak langsung berangkat", teriak kenek angkot mengajak ku turut serta.Sambil berlari kecil aku menuju angkot warna kuning yang siap mengantarku,dengan cekatan kenek angkot menyambar travel bag yang ku bawa untuk di masukan bagasi."bungur" kataku menyebut pemberhentian terakhirku sambil mencari tempat duduk."Tarik pir" teriak kenek memberi aba-aba pada sopir untuk segera berangkat. Aku dapat tempat duduk di bangku deret kanan sebelah belakang.Tanpa ku hiraukan penumpang lain langsung ku sandarkan kepalaku sambil ku dekap jaket yang sedari tadi tersampir di pundakku. Lamunanku langsung melayang, terbayang korban-korban gempa termasuk kakaku dan keluarganya yang sedang mengalami masa-masa sulit pasca bencana bisa kurasakan penderitaan mereka. Terbayang lagi gempa Bantul yang para korbanya banyak yang terlantar karena bantuan terkesan lambat. Entah karena birokrasi yang berbelit atau memang oknum yang memanfaatkan penderitaan rakyat untuk menumpuk kekayaan pribadi lewat bantuan untuk korban bencana. Semoga pemerinta dan pihak-pihak terkait penanganan gempa di Jawabarat, bisa bercermin pada pengalaman seperti di Bantul bahkan tsunami di Aceh. " Ya Alloh ya Robbi,jika bencana yang Kau timpahkan kepada Bangsa kami adalah ujian, ringankanlah ya Allah"," Jika bencana ini hukuman ampunila segala dosa-dosa kami ya Allah".
*Di DEDIKASIKAN tuk: Korban gempa di Jawabarat,Semoga para korban yang selamat di kuatkan untuk menghadapi cobaan ini. Ingat kalian masih punya kami seluruh rakyat Indonesia. Bagi korban meninggal semoga arwahnya di terima di sisi-Nya...Amin...
DAMAI
Sore yang indah.
Membangkitkan semangat jiwa yang lelah.
Lelah dari segala urusan dunia,
Lelah dari segala sahwa sangka,
Lelah dari gejolak perang batin yang tidak pernah mengenal gencatan senjata.
Lelah dari kebisingan dunia yang meyakitkan telinga.
Ku terduduk....
Tatap mata kosongku menerawang jauh...
Jauuuh...Seakan Mencoba mencari kaki cakrawala di ufuk barat yang mulai merona kemerahan...
Tatap mataku kosong...
Hatiku kosong...
Isi kepalaku kosong...
Entah ke mana segala hal dan permasalahan yang sedari tadi merongrong???.
Semua hilang,sirna,lenyap entah istilah apa lagi untuk mengambarkan ke pergia*nya(*segala yang menyesakkan jiwa dan merongrong isi kepala)
Masih terus kupandangi senja yang kian *temaram...(*beranjak gelap)
Semakin membawa kedamaian hati....
Laksana tiupan sang *bayu(*angin) yang membawa ke sejukan jiwa...
Bagai guyuran air yang menentramkan kalbu...
Rasanya ku ingin berlama-lama...
Kaki-kaki ku engan beranjak dari tempat ku terduduk...
Jiwa dan ragaku seakan kompak ingin terus merasakan....Rasa DAMAIIIII...DAMAII..DAMAI..
Membangkitkan semangat jiwa yang lelah.
Lelah dari segala urusan dunia,
Lelah dari segala sahwa sangka,
Lelah dari gejolak perang batin yang tidak pernah mengenal gencatan senjata.
Lelah dari kebisingan dunia yang meyakitkan telinga.
Ku terduduk....
Tatap mata kosongku menerawang jauh...
Jauuuh...Seakan Mencoba mencari kaki cakrawala di ufuk barat yang mulai merona kemerahan...
Tatap mataku kosong...
Hatiku kosong...
Isi kepalaku kosong...
Entah ke mana segala hal dan permasalahan yang sedari tadi merongrong???.
Semua hilang,sirna,lenyap entah istilah apa lagi untuk mengambarkan ke pergia*nya(*segala yang menyesakkan jiwa dan merongrong isi kepala)
Masih terus kupandangi senja yang kian *temaram...(*beranjak gelap)
Semakin membawa kedamaian hati....
Laksana tiupan sang *bayu(*angin) yang membawa ke sejukan jiwa...
Bagai guyuran air yang menentramkan kalbu...
Rasanya ku ingin berlama-lama...
Kaki-kaki ku engan beranjak dari tempat ku terduduk...
Jiwa dan ragaku seakan kompak ingin terus merasakan....Rasa DAMAIIIII...DAMAII..DAMAI..
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)